“Behold, I am with you and will keep you wherever you go, and will bring you back to this land. For I will not leave you until I have done what I have promised you.”
“Behold, I am with you and will keep you wherever you go, and will bring you back to this land. For I will not leave you until I have done what I have promised you.”
Malam ini rasanya saya ga punya sesuatu untuk dikerjakan. Untuk dipikirkan, banyak. Tapi ini lewat tengah malam, waktu baik dan permitted untuk mengingat kembali.
Pikiran kembali mencoba mentransformasi masa ini kembali ke masa lalu. Hebat ya, gimana memori dan perasaan bisa saling mempengaruhi. Saya merasakan perasaan bahagia seperti bunga berduri yang tidak menyakitkan. Andai saja tulisan yang terdiri dari kombinasi 26 huruf bisa menjelaskan memori dan perasaan yang tak berbentuk.
My hamsters!! Here they are:

Hobo dan Kimiko…. ^^
Hobo itu jantan putih, Kimiko betina coklat. Awalnya gua kira dua-duanya jenis Roborovski (Robo). Robo itu jenis hamster yang paling kecil dari semua jenis hamster, lincah dan gak suka gigit. Tapi ternyata, kok Hobo badannya gede banget ya? trus warna sama bentuknya juga beda sama Kimiko?
Hmm, penasaran, trus nanya ke petshop dan oooh ternyata Hobo itu jenis Winter White Golden. Hahaha

Hobo
Hobi: tidur
Berat: 2-3 kali kimiko
Kimiko
Hobi: lari-lari di roda
Berat: 1 kali kimiko
Walopun Hobo Kimiko beda jenis, beda sifat, trus beda ukuran; mereka ga pernah berantem. Kandang Hobo dan Kimiko selalu tentram dan damai. Sebenarnya dulu waktu Kimiko sama Hobo masih umur 3 mingguan, Kimiko suka gigit Hobo. Nah waktu Hobo udah gedean badannya, Hobo balik nyerang Kimiko. Tapi gua akirnya berdoa buat mereka supaya ga berantem lagi. Soalnya hamster teman gua makan temen sekandangya
. So, setelah didoain, Puji Tuhan ajaib hahaha, mereka ga pernah berantem lagi

Kalo masalah gua tentang hamster aja Tuhan peduli, apalagi yang lainnya…

Pagi ini saya bangun kesiangan, agak disengaja, (: , toh bakal masih sempet untuk beres-beres kamar. Saya ngeliat kamar yang berantakan. Di bulan-bulan ini kamar saya terhitung rapi, tapi sekarang, let’s say, sedikit berantakan.
Karena ngerasa jalan dan duduk di kamar sendiri udah susah, jadi saya mutusin untuk bersih-bersih mulai dari lantai. Pakaian kotor, bersih, semi-bersih ada dimana-mana. Saya mengangkat pakaian kotor ke keranjang cucian dan pakaian bersih ke tempat setrikaan (-karena saya malas melipatnya-).
Pas keluar ke lorong kosan, syok. Wow, kosan saya bersih. Saya ngeliat bibi baru yang kerja pulang pergi. Dia sedang tepat berada di samping kamar saya, lagi bersihin sudut lantai dengan kemoceng. WOW, mbak Ina, yang bekerja sebelumnya, tidak pernah kedapatan pegang kemoceng, apalagi untuk bersihin sudut lantai.
Daerah belakang, tempat nyetrika, nyuci dan biasanya jemur pakaian, super rapi. Saya sangat senang. Yah walopun si bibi kerja pulang pergi, tapi top banget kerjanya.
Saya jadi teringat bibi top of the top (gelar diberikan oleh Maulita Dwasti Isnutomo aka Uli, temen sekosan, tapi bener banget, emang top banget). Kalau biasanya saya keluar kamar jam 6 an, lorong udah bersih banget. Bibi ini juga baik banget, saya lagi batuk di kamar, trus pintunya diketuk,
“Neng Tesa mau saya bikinin teh?” kata si bibi dengan muka cemas.
Tapi kini bibi top of the top udah gak disini lagi. Digantikan sama Mbak Ina yang juga udah ga kerja disini lagi.
Mbak Ina
Saya gak terlalu dekat sama Mbak Ina. Ga kaya Bibi top of the top, dia jarang nyapa anak kosan. Bibi top of the top dulunya suka curhat ke saya kalau saya lagi masak di dapur. Mbak Ina boro-boro curhat, ngomong cuma seperlunya. Saya juga jadi memperlakukan beda, bibi top of the top saya suka beliin J.Co, dan Mbak Ina? Satu donat gopekan aja ga pernah.
Udah cukup lama Mbak Ina kerja di rumah, sudah tujuh bulan lebih. Saya dan teman-teman sekosan, juga Ibu kos, udah mulai terbiasa dengan keadaan rumah yang kurang bersih. Ada satu lagi kebiasaan yang aneh selama Mbak Ina di kosan, yaitu: saya merasa saya terlalu boros.
Kenapa setiap penarikan uang dari ATM yang dulunya cukup untuk seminggu, hari-hari belakangan cuma bisa untuk 3-4 hari. Saya merasa boros dan bersalah. Mulai menyayangkan setiap coklat yang saya berikan ke orang lain. Mulai berfikir untuk lebih hemat. Mulai tanya-tanya tentang kerja sampingan sama teman hahaha. Saya ngerasa ga enakan kalo minta ke orang tua lagi. Intinya, setiap bulan saya kurang uang.
Di suatu minggu siang yang indah, saya keluar kamar pengen mandi. Kamar mandi di kosan saya di luar, so, saya keluar dari kamar. Tapi sebelumnya saya merasa (I think God spoke to my heart) perlu untuk menghitung uang di dompet. Dua lembaran lima puluh ribu. Sip. Tutup pintu kamar, trus mandi.
Selesai mandi, saya bersiap-siap ke gereja. Nah, ternyata hujan, saya gak punya payung. Jadi saya pergi ke swalayan sebelah dan beli payung. What surprised me a lot, waktu mau bayar payung, uang saya tinggal lima puluh ribu. Ha! Wow, seseorang mengambil uang saya.
Besoknya, saya menset kamera video on dan meninggalkan kamar untuk mandi, with door closed but unlocked (as always). Hasilnya, setelah mandi:
Ada yang masuk kamar saya di menit ke-6 setelah saya meninggalkan kamar!
Who is she?
Mbak Ina.
“The Judgement Day”
Syok tralala.
Saya memang berharap saya tidak benar-benar boros. Tapi saya juga tidak berharap kalo ada orang lain yang ngambil uang saya.
Singkat cerita, video saya puter ke temen-temen sekosan (yang jadi syok juga) dan kita sepakat kasih tahu Ibu Kos malam itu juga. Dengan kuasa kesepakatan, kita menghadap Ibu Kos dan Ibu kos juga syok tralala.
Beberapa hari kemudian, saya, Uli (temen kosan) dan Mbak Ina dipanggil Ibu. Saya angkat bicara,
“Mbak Ina, akhir-akhir ini saya ngerasa uang saya banyak hilang. Mbak kira-kira tahu?”
“Enggak.”
Ekspresinya meyakinkan, bener-bener kebingungan. Kalo saya gak punya bukti rekaman video, saya bakal percaya dan langsung ngacir ke kamar karena udah nuduh sembarangan. Saya baru nyadar kalo banyak banget orang yang bisa bohong secara meyakinkan dari kejadian ini dan setelah beberapa kali menonton Uya memang Kuya.
“Bener Mbak?”
“Bener, coba aja geledah kamar saya kalo gak percaya.”
Hela nafas,
“Mbak saya punya bukti. Saya rekam di video.”
“Mana?”
Saya bawa turun laptop saya dan putar. Si Mbak terkejut, terus terdiam. Kemudian, saya dan Uli coba introgasi si Mbak. Mungkin karena gak di dampingi pengacaranya, si Mbak memilih untuk bungkam seribu bahasa. Kesel campur bosan, kita terus bujuk si Mbak bicara.
Akhirnya dia ngaku, trus minta maaf. Dia ngaku beberapa kali masuk ke kamar, dan uangnya gak di dia. Saya ngeri tentang jumlah uang yang udah dia ambil. Seingat saya, mama mengirim ulang uang untuk 3 bulan, artinya pencuriannya bernilai sangat besar (buat saya). Saya ngeri membayangkan bisa-bisanya tega ngambil uang segitu banyak. Saya ngeri membayangkan perasaan ketakutannya masuk ke kamar saya. Saya ngeri membayangkan.. kalau saya ada di posisi dia.
Pastilah dia ga mau mencuri. Dan saat itu berada di depan saya, tertangkap, merasa bersalah, kedok terbuka. Saya mengerti, muka masam selama ini, memang karena ada sesuatu yang rapuh yang harus disembunyikan.
Saya ga yakin apa yang harus sebenarnya saya lakukan, tapi saya menutup pertemuan malam itu dengan keinginan untuk menggenapi salah satu visi hidup saya, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan.
Saya berkata,
“Saya menghargai kejujuran dan keberanian Mbak untuk mengakui kesalahan. Saya mengampuni Mbak karena sudah masuk ke kamar saya. Saya mengampuni Mbak yang sudah mengambil uang saya. Saya berharap Mbak gak melakukan hal yang sama lagi. Saya juga berharap Mbak mengerti bahwa Mbak sudah diampuni sehingga gak lagi dihantui rasa bersalah.”
Saya, Uli dan Mbak Ina terdiam.
Malam itu, saya merasa tidak tahu harus belajar apa dari kejadian tersebut. Tapi seseorang sudah belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Saya berharap, bahwa pengampunan yang sudah saya lepaskan bisa membebaskan dia, sama seperti pengampunan yang pernah saya terima pernah membebaskan saya.
Saya rasa malam ini cukup.

Which one do you prefer?
“Everything happens for a reason” OR “everything is pointless”
Being someone who truly believes in God, you might prefer “Everything happens for a reason”, just to make sure it suits you more. The question is, is it true? Choosing vanilla ice cream instead of chocolate ice cream does mean something, do you think?
I do not believe that good and bad always balance out in the end.
I do not believe that cause and effect theory has something to do with my whole life path.
I do not believe things happen just because: that is the randomness of life.
I do think so.
***
People love quotes, and as you see, some adores them without even bothering to know the meaning. Just because it sounds cool. There seems to be a trend of being hooked up in these so-called ‘wise words’.
Please don’t think that I am trying to make a fool of anyone, what i am trying to say is, you deserve more than just an empty phrase.
However, the “things happen for a reason” phrase is a perfect example of something that people accept without even really understanding it. In our society, there is a common point of view seeing something in a good way.
Well, we have 360 degree to evaluate a problem, don’t we, so why don’t we see a problem in a good way? There’s nothing completely bad ever happens, there’s always something good to take from it.
I do not agree.
For me, personally, if something bad happens to me, I’d rather not try hard to reveal ‘the good lesson’. It won’t make me any better. It is irrelevant. For example, your boyfriend cheats on you, it is something bad. Then you try to find something good in a bad condition. Maybe God will give someone who loves me more. He just doesn’t deserve me.
There’s nothing wrong with hope and optimism, I am a person full of hope, but trying to make sense of tragedy with weak compromises simply cheapens your life value.
I remember being in a bad situation for about six months. It was nothing good at all. Those negative feeling, those hurt, it all blame me inside. No good lesson, there’s no lesson, but listen carefully to what i am saying, there was God comforting me in time of trouble. Throughout my problem, He delivered me to the next level where I transformed to be someone stronger. As life tears you down, it builds you up.
Problems make you stronger. Furthermore, God uses problems to fix up your character. I do not need any reason to keep on walking on my life path when storm comes on my way. I just need faith.
Things do happen for a reason, simply to make you stronger for it once you overcome them. Instead of trying to look for reasons why something bad might not be so bad after all, why not accept that bad things happen, and feel the hand of God shaping you.
seperti wanita yang bukan siapa siapa
yang tidak untuk diceritakanseperti wanita yang menunggu mati dirajam batu
menangis menunggu mautseperti wanita yang menunggu di kakiNya
seperti wanita yang menangis
dan membuatNya menangis karena kematian kakaknyaseperti wanita yang menggenggam buli-buli,
dan memecahkannya di kakiNya
dan yang tangisnya ikut terpecahseperti wanita yang menunggu di kaki salib
yang mengikuti aliran darah
dengan aliran air matanyaseperti wanita yang datang ke kubur Yesus
yang ingin sekali berjumpa
walau tak akan berbicara
walau yang akan ada hanya tangisanseperti wanita yang menjadi saksi kebangkitan
seperti wanita yang menunggu janji
bersama saudara berdoa menjelang hari pencurahandan dia yang setia sampai kesudahannya
dia yang menguras terlalu banyak air mata
untuk sesuatu yang hanya dia dan Tuannya yang mengertiseperti dia,
saya akan ada.
oleh Tesa Fiona, 16 April 2010
Hari ini hari yang indah, matahari tersenyum indah, bunga-bunga bakung menyapa saya di taman sejuta warna (:
Bohong! haha.. Matahari gak bisa tersenyum dan bahkan saya belum pernah lihat bunga bakung…
Tapi, ya, ini hari yang indah sama seperti hari kemarin yang saya jalanin. Sebenarnya kemaren itu hari yang biasa, seperti juga hari-hari yang telah lewat.
But one thing i learn from my super-blast life journey: all ordinary things surround me will always take me to the truth that i am extraordinary… (:
***
Berada di tengah-tengah kelas laser, saya mendekap binder winning saya, ‘melipat’ kedua bibir dan mengangkat kepala, menatap dosen, seolah-olah sang dosen duduk di singasana nun jauh di atas sana.
Pikiran saya jauh melayang, ke belakang. Terpana dengan betapa cepatnya pikiran dapat bergerak. Ah, andai segala sesuatu tak perlu terburu-buru.
Dan pikiran yang terkesan tergesa-gesa itu menghantarkan saya pada sebuah:
buku.
***
Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang. Ditulis oleh Mbak Naning Pranoto, diberikan oleh papa saya. Saya menerima buku ini dengan bingung dan antusias. Bingung karena papa saya yang memberikan. FYI, saya jarang dibelikan buku. Malah, ini yang pertama sanggup bersarang di memori saya. Apa saya kurang tahu berterima kasih, apa memang sejak kecil saya dibiasakan membeli sendiri setiap buku yang saya suka. Entahlah. Dan juga, antusias bak mendapat harta karun. And yes, the book was really great.
Ditambah ini: beberapa bulan kemudian sekolah saya tercinta mengundang Mbak Naning untuk berbicara di Hall sekolah! Mimpi apa saya? Kontan saya menemui guru bahasa Indonesia dan melobi agar semua redaksi Eureka, majalah sekolah saya, dapat menghadirinya.
Mbak Naning, orang yang sederhana, pemikir dan berkarakter kuat. Beliau mulai berbicara sedikit mengenai bukunya (*yang dengan bangga saya cerita ke teman-teman kalo saya sudah membacanya). As it goes, (saat itu) saya merasa ditakdirkan untuk mengambil saja jurusan sastra. Tapi tak di Indonesia.
Kata Mbak Naning,
“di Amerika ada jurusan bagus, saya menyarankannya buat yang suka menulis. Jurusannya Creative Writting…”
dan bla bla bla.
Saya pun jadi mulai berpikir Bagaimana jika tidak ITB? bagaimana jika ke luar saja? Mama pasti gak setuju, Papa mungkin setuju. Tapi, setuju juga, duit dari mana?
Dan sejak terhenti (karena gak ada duit), saya mulai kembali ke realita: Matematika, Fisika, Kimia, Biologi dan Bahasa (bahasa, bukan sastra…)
***
Did my life ended? Sure no
. Ini kan bukan cerita, ini realita.
Bukan berarti saya lupa pada yang tak teraih itu. Bukan juga karena saya tak punya mimpi lagi. Mungkin karena saya tidak (lagi) mencari kehidupan yang membuat saya bisa hidup. Saya sudah bertemu dengan Hidup.
***
Tentang mimpi, saya punya.
Tentang tulisan sejarah masa depan, saya merekamnya.
Tentang momen, ya saya ingin.
Saya mau lulus tepat waktu, saya mau mentransformasi hidup banyak orang secara personal melalui kelompok sel (komsel) yang saya punya. Saya mau lebih berkarakter. Saya mau menerbitkan tulisan (apapun). Saya mau ke luar negri, beasiswa. Saya mau bertemu ‘seseorang’. Saya mau punya koleksi lensa.
Tapi kalo saya mencoba berhenti sejenak, saya rasa itu semua bahkan tidak terlalu penting! hahaha
What i am trying to say, i have dreams. Tapi satu hal yang saya gak mau terjebak pada:
pemikiran yang salah bahwa:
my life will be perfect if my dreams fulfilled.
***
Karena mimpi tidak bisa menyempurnakan hidup.
***
Dan sekarang saya tersenyum. Menatap kekacauan yang saya ciptakan di kamar saya. Ah, sejak kapan seniman berhak mengklaim bahwa ketidakteraturan adalah seni? Saya lebih memilih sesuatu yang rapi (untuk saat ini, untuk kamar saya
)
Saya memimpikan kamar yang seketika juga rapi. Saya memimpikan bilamana saya terbang tanpa sayap. Saya memimpikan matahari yang tersenyum.
Suatu saat nanti, akankah saya bertemu dengan sang bunga bakung? walau hanya setangkai… walau tak di taman sejuta warna…
Dilema.
Bukan karena apa yang telah terjadi atau apa yang harus saya lakukan.
Saya dilema menentukan judul postingan ini. Sebenarnya ada satu kata yang terlintas di benak saya, tapi terlalu vulgar, so…
***
Alkisah, saya dan teman-teman sekelas sedang menunggu dag dig dug suatu ujian bernama Sensor dan Aktuator. Terasa kelas begitu gaduh, saya pun memalingkan mata saya ke jendela, mencoba menyeimbangkan apa yang terlihat dan apa yang terdengar. Saat itu pukul tiga sore. Pikiran saya menerawang, tidak ambil pusing dengan ujian yang akan saya hadapi. Pikiran saya menerawang, dan ‘ambil pusing’ dengan ujian yang sedang dihadapi adik-adik komsel saya yang masih TPB.
Jauh menerawang, mata saya akhirnya mendapati tempat persinggahan. Sebuah fenomena mencuri pandangan saya dan memaksakan saya untuk berkonsentrasi menangkap esensi dari kejadian tersebut. Saya melihat dua orang sedang berada di atap Gedung Labtek Biru.
Tidak usah basa-basi, saya mau blak-blakan saja. Dua orang itu adalah cewek dan cowok. Dan mereka sedang make out.
***
Saat saya mencoba mencerna apa yang diinformasikan oleh mata saya, kegaduhan kelas bertambah parah dan beberapa orang teman mulai berlarian ke jendela. Ternyata mereka juga mendapati ‘penglihatan’ yang sama. It was fun (at first) for us to watch a rare live show like this.
Kita berpikir: wow, lama banget ya. Udah sekitar lima menit lohh… Astaga rumus di otak gw ilang semua. Sumpah, kocak abis…
Saya cuma bisa tersenyum. Maksud saya, saya terbahak-bahak. Senang melihat reaksi teman-teman. Senang mendapat kesempatan langka ini. Senang karena itulah (secara jujur) reaksi yang meluap dari hati saya.
Beberapa lama kemudian, live show ini masuk ke scene yang berikutnya. Mereka ML. Di atap. Kami melihat. Teman-teman berteriak.
(Saya berdoa, Tuhan semesta alam menguduskan pikiran kita semua. Mari kita membuka mata dan menjadi dewasa.)
***
Itulah yang terjadi. Buat saya itu aneh dan menggelikan. Terjadi, dan berakhir sesaat sebelum ujian dimulai.
***
Sehabis ujian, saya kemudian bertemu dengan teman-teman di Perpustakaan ITB – Josephine, Bang Eko dan beberapa lainnya. Sambil menunggu teman yang lain, saya menceritakan kejadian selama ujian (dengan terbahak-bahak).
***
Tapi saat ini, saya menulis dengan mulut yang terkunci, tanpa senyum. Saya mendapati bahwa hal yang saya dan teman-teman saya lihat adalah suatu hal yang menyedihkan. Bukan reaksi saya ketika mendapati kejadian tersebut yang sangat saya sesali. Bukan. Tapi saya menyesal telah menjadikan hal ini sebagai bahan pembicaraan dan (membuatnya seolah-olah) menggelikan.
It was fun. For me to see it for a while.
It was fun. For the girl to do it for a while.
Bersyukur bahwa Roh Kudus menahan saya dari pikiran yang tidak baik setelah hal tersebut. Tapi satu hal, saya menyesal tidak menahan hati saya untuk tidak mentertawakan mereka. Saya tahu hal itu menyakitkan; dan jika saja hati Bapa ada pada saya saat itu (saya sungguh berharap), saya bisa merespon dengan benar.
***
Teringat suatu kalimat yang saya senangi: Bukan tentang benar dan salah, tapi soal respon. Saya melihat, saya tertawa, saya tahu saya bersalah. Saat ini saya mulai menangkap apa yang Roh Kudus sampaikan, dan mulai timbul kerinduan. Tuhan, saya ingin BERTEMU dengan mahasiswi tersebut.
Saya mau bertemu dengan mereka yang seperti itu. Saya mau.
Saya siap dan saya tidak akan mengeluh.

Siang ini cukup shock dikejut-kejut oleh berita (setengah) salah tentang uts Akustik (mata kuliah jurusan saya, TF3204). Pagi itu (ceile), saya sedang makan pagi di himpunan selesainya dari kelas Analisa Thermal (TF adu ga penting). Terus, anak-anak pada teriak panik: UTS Akustik kelas pak Joko, kita ikut!
Voillaa, dan ujug-ujug himpunan menyepi dan kucing himpunan tak bernama pun merajai selasar.
Setengah salah. Karena, iya memang ada UTS, tapi format nya take home. Jadi cuma pengumuman DOANGS. Tapi saudara-saudara sebangsa setanah air, apa yang menggugah saya bukanlah tentang informasi salahnya, tapi tentang tugas Take Home nya. Daaang… kita disuruh menganalisa kondisi akustik suatu ruang yang lumayan gede secara objektif dan subjektif. Tidak terpikir SAMA SEKALI apa yang bisa saya tulis. SAMA SEKALI. Kelas favorit untuk melepas lelah semalam bergadang ini memang kurang meninggalkan berkas-berkas cahaya pelita ilmu di pikiran saya (meninggalkan berkas mimpi, iya
).
… dan begitu kelas usai, saya pun beranjak dan mencoba berfikir…
Agak-agak seneng juga karena hampir semua teman di kelas genap (yang kebetulan juga orang-orang yang kurang mengerti tentang akustik ini) juga pada panik melebihi saya. Terhibur, akhirnya saya bisa berfikir.
Akhirnya…
Yussshhh… ada ide
. Kamis Jumat ini ada (mungkin bukan dinamai KKR) semacam ibadah di Hall Sabuga. Adakah yang menarik? Ya? Bukan pembicara-pembicaranya (walaupun saya sangat excited dengan dua hari yang akan datang itu), tapi kata-kata “Hall”. Baiklah semua orang yang mengerti bersukacita akan kesempatan ini (thanks God).
Terbayang kalo di acara ini bakal ada praise and worship (fullband) dan kotbah. Music and speech. Perfect for my project. Jadi imajinasi saya sudah mulai bisa merangkai kerangka makalah yang akan saya kerjakan untuk tugas ber-deadline senin pekan depan. Tinjauan Hall Sabuga dengan kesesuaiannya sebagai gedung pertunjukkan musik dan atau speech… Yippe eaaa….
***
Dari dunia nyata perkuliahkan, mari mentransformasi setting tulisan ini ke dunia maya yang saya jalanin di hari ini. Tidak semua akan terceritakan karena tidak semua menarik (yang ga penting bisa diceritakan asal menarik).
Selepas kuliah ketiga yaitu Kontrol Otomatik, saya bergegas ke kosan dan menghindari rapat rutin mingguan divisi proinfo (atau kominfo atau apa?). Maaf kepada Yuniar, mungkin saya mau pindah divisi haha.
Sesampainya di kosan, saya menghidupkan laptop, berusaha mengenang project dari Bang Hen yang diberikan kepada kami (saya dan beberapa anggota multimedia ministry sion). Project ini berupa video yang akan perdana diputar di Easter Service “Unexposed Side From the Passion of the Christ” dari teman-teman sesama pekerja di Unpar. Mencoba merealisasikan ide dan membuatnya nyata secara maya (tetep aja mainnya di laptop haha), saya pun mengoprek Adobe After Effect dengan project-project yang saya miliki. Dan ternyata AE saya rusak, efek dari kerusakan laptop saya beberapa pekan yang lalu. Sehingga: tertunda.
Beralih ke pekerjaan lain. Saya pun mencoba melihat sisi lain mereka yang tidak saya kenal. Mulai dengan blogwalking dan masuk ke random blog yang sedapat mungkin saya temui.
And what surprised me a lot, saya terdampar berjelajah di sebuah blog umum yang mengangkat tema good taste of style, yang di dalamnya saya “bertemu” dengan seseorang yang saya kenal!! Yang adalah berupa foto (kok). There my smile does its very good job. A missing smile. A sincere one
. Suatu kebetulan yang luar biasa buat saya karena I am fighting for this someone last two days. A second thankyous to God…
***
Dan dee. Tentang dee (bukankah dia judul saya?)
. Saya membuka blog mbak Dee setelah tidak terjamah selama beberapa bulan, dan menemukan posting yang menyenangkan. Bukan tentang topik yang diangkat mbak Dee, tapi sesuatu mengenai gaya penulisannya. Saya mengenalnya. Sangat Dee; dan saya suka.
Sekarang, menjelang detik-detik terakhir berakhirnya tulisan ini, saya sedang menunggu teman saya si DP ITB 2007 bernama Rachel untuk datang ke kosan saya (Ra! kembalikan waktu tidur, masa muda dan kamera saya…). Jadi ceritanya ‘beliau’ akan datang untuk ‘meminta bantuan’ saya membuat file swf portfolio ‘karya-karya’ nya (mengapa begitu banyak tanda kutip?). Sebagai gantinya, Peri Rachel bersedia menyguhkan makan malam buat saya. Saya ‘terpaksa’ menerima tawaran ini karena lagi ga punya uang di dompet
akibat kemalasan singgah di ATM. Dan saya-pun merasa sama seperti Esau yang menukar hak kesulungannya (tidur malam saya) dengan kacang merah (makan malam).
…
***

Mungkin itu saja ceramah malam ini dari saya hahaha. A bunch of love to you who have read this posting!
Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya menghimbau semua peepers yang kebetulan membaca posting ini untuk MENULIS. Yes, we are all have stories that we’ll never tell. But you DO HAVE story that you’d like to tell, am i right?
Good night (might be a very long night for me…)! Sebuah malam panjang penantian akan makan malam dan malam panjang yang menyenangkan karena saya akan menyapa Bapa (sekali lagi) sebelum semuanya digantikan oleh hari baru…