Malam ini rasanya saya ga punya sesuatu untuk dikerjakan. Untuk dipikirkan, banyak. Tapi ini lewat tengah malam, waktu baik dan permitted untuk mengingat kembali.
Pikiran kembali mencoba mentransformasi masa ini kembali ke masa lalu. Hebat ya, gimana memori dan perasaan bisa saling mempengaruhi. Saya merasakan perasaan bahagia seperti bunga berduri yang tidak menyakitkan. Andai saja tulisan yang terdiri dari kombinasi 26 huruf bisa menjelaskan memori dan perasaan yang tak berbentuk.
Tesa kecil suka bersepeda. Rahasia yang saya miliki dan terlalu bodoh untuk diceritakan adalah, saya, kala itu, merasa cantik ketika bersepeda. Aneh? Bodoh? Iya, mungkin. Rambut pendek, kurus, kulit putih dan berbintik-bintik merah; oh tambahan, pemalu. Ga ada alasan logis kenapa merasa cantik bisa berpadu padan dengan bersepeda.
Mungkin ya, saya tersadar selagi menulis, saat itu saya merasa cantik karena apa yang saya imajinasikan ketika bersepeda. Seakan-akan lincah benar membuka jalan yang belum pernah saya ketahui. Mencoba kecepatan baru dalam bersepeda. Trek-trek yang menyenangkan untuk diambil. Intinya, saya merasa penting ketika duduk di dudukan kurus sepeda pink saya.
Dua alasan sudah terkumpul: cantik dan penting. Masih tetap bingung? Maaf, ingat kembali, 26 huruf mencoba mengilustrasikan perasaan dan memori abstrak.

Tesa kecil bersepeda dengan M kecil
Tesa kecil, dulunya, punya teman bersepeda. Kita namakan M kecil. M, sejauh ingatan masa kecil yang berusaha tidak saya kontaminasikan dengan panduan Tesa dewasa, adalah seorang anak yang penuh dengan rahasia, keren, dan tinggal di rumah bagus yang berdampingan dengan rumah bertaman bagus. Tesa kecil kala itu tinggal di rumah kontrakan yang berdampingan dengan rumah seorang keluarga dengan anak-anak yang terus berteriak. Seakan-akan mereka terus menerus adalah bayi.
Tidak ada masalah. M kecil tidak menganggap itu masalah. Kami hanya bersepeda dan itu yang penting. Mencoba gang-gang sempit yang tidak berani saya lalui seorang diri. Atau perjalanan jauh yang tidak pernah menarik bagi saya sebelumnya. And now my memory sensing a passion, sensing an adventure glow. In us.
Saya tidak terlalu ingat bagaimana ritual bersepeda sore akhirnya menjadi agenda kami. Dan, bagaimana itu berakhir. Yang memori saya katakan adalah, saat ini bunga berduri itu sedang menyayat sesuatu di jiwa.
Bagaimana berakhirnya, yang saya ingat itu adalah kesalahan saya. Takut dan malu, kalau tidak salah. Tidak baik bukan, datang ke pesta ulang tahun meriah, terlambat dan tanpa kado?
Saya sudah berada di depan rumah, percayalah. Tapi enggan masuk dan akhirnya berjalan pulang ke rumah. Sedih ya?
Saat ini saya menimbang, bagaimana jika Tesa dewasa yang berada di situasi itu saat itu?
Dua Tahun Setelahnya
Dua tahun kemudian, saya kembali bersepeda. Dengan sepeda pink yang sama. Rumah berbeda. Tidak ada lagi M kecil. Sempat terpikir untuk menjemput M bersepeda ke rumahnya. Tapi tidak, saya hanya takut Tesa kecil sudah menjadi masa lalu bagi M yang mungkin saja sudah beranjak dewasa.
Dan inilah saat itu, bersepeda sendirian dan melakukan apa yang pernah dilakukan sebelumnya. Tentu ada yang berbeda, memori tentang M kecil membentuk dua perasaan bersepeda yang unik bagi Tesa kecil yang bersepeda sendirian: cantik dan penting.
Jalan baru, kecepatan baru dan trek baru. Semuanya dibentuk dari memori dan perasaan yang telah terpatri oleh M kecil.
like this! aku suka cara kamu menulis ulang memorimu, it’s so alive and imaginative. It took me back to the 90′s when this story commence, hehe
. keep on writing, tesa!